Pelayanan Kesehatan Gratis di Indonesia?

Pagi tadi karena flu saya tampaknya tidak sembuh-sembuh (dan karena desakan dari kiri-kanan juga), akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Poliklinik perusahaan. Setelah pesan tempat di pagi harinya, saya pergi ke sana kira-kira pukul 9. Untung saja pada saat itu tidak banyak orang yang menunggu giliran sehingga tidak berapa lama setelah daftar ulang, nama saya dipanggil untuk diperiksa.

Setelah diperiksa dan diberikan resep, saya kemudian menebus resep tersebut kepada apotik kecil yang ada di poliklinik tersebut. Setelah itu? Ya sudah, saya melenggang saja pergi tanpa mengeluarkan sepeser pun.

Inilah salah satu kelebihan yang saya sukai dari tempat saya bekerja, ada poliklinik gratis. Saya tinggal daftar, berkonsultasi dengan dokter, diberi obat, dan kemudian pulang dengan obat gratis.

Memang di banyak perusahaan hal ini bukanlah hal yang luar biasa, terutama untuk perusahaan yang besar. Terkadang pelayanan kesehatan yang diberikan tidak dalam bentuk poliklinik, namun dalam bentuk rumah sakit rujukan. Pada rumah sakit tersebut, segala biaya kesehatan Anda akan ditanggung, meskipun porsi penggantian biaya berbeda diantara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya.

Yang mencuat dalam pemikiran saya setelah keluar dari poliklinik adalah: “Kenapa negara kita tidak bisa menyediakan pelayanan kesehatan gratis tanpa terkecuali seperti ini ya?”

Saya jadi ingat kegondokan saya melihat film dokumenter “Sicko” buatan Michael Moore. Di film tersebut terlihat bagaimana mudahnya mendapatkan pelayanan kesehatan gratis di negara-negara seperti Inggris, Perancis, bahkan di negara yang dipimpin oleh seorang diktator seperti Kuba.

Seperti halnya di poliklinik perusahaan saya, pelayanan kesehatan di negara-negara tersebut sangat mudah dan gratis. Anda hampir tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun (bahkan di Inggris, kalau Anda ke rumah sakit naik taksi, pihak rumah sakit akan mengganti biaya taksi Anda)

Bagaimana caranya negara dapat menyediakan pelayanan kesehatan gratis seperti ini? Jawabannya dari Pajak. Nah ini nih yang sulit diterapkan di negara kita. Idealnya sih, pajak akan diperbesar untuk digunakan sebagai subsidi kesehatan, suatu bentuk sosialisme kecil. Yang kaya menanggung yang miskin dalam subsidi kesehatan.

Namun, meskipun saya memimpikan suatu bentuk sosialisme pelayanan kesehatan seperti yang terjadi di negara-negara di atas, tampaknya hal ini masih tetap akan menjadi mimpi. Hal ini bisa dilihat dari sulitnya birokrasi dan politik di Indonesia.

Ayolah pemerintah! Carikan cara agar masyarakat Indonesia bisa menikmati pelayanan kesehatan gratis (tanpa embel-embel “Syarat dan Ketentuan berlaku”), hilangkan paradigma “Sakit itu Mahal” yang sudah mendekam di sanubari masyarakat. Karena menurut saya kesehatan itu sama pentingnya dengan pendidikan.

Untuk sementara, menunggu pemerintah bergerak, tampaknya saya kalau sakit lagi, saya masih akan pergi ke poliklinik perusahaan saja dulu. :)

0 TrackBacks

Listed below are links to blogs that reference this entry: Pelayanan Kesehatan Gratis di Indonesia?.

TrackBack URL for this entry: http://www.patvandiest.com/cgi-bin/mt/mt-tb.cgi/33

2 Comments

Arham said:

Van lho ikut sesi internet marketing waktu di PB07 kmren ngak?.. nah hal ini berkaitan dengan yang namanya service... ngak jelaz gmn, kata mereka( yang bicara waktu sesi itu) Indonesia itu ngak mempunyai culture service makanya situasi gratisan jadi sangat amat jarang banget sekali . umm btw kapan2 bagi2 majalah chip gratis dunks.. :-)

Arham
www.Road-entrepreneur.com

Bob said:

Humph. Someone has to force me to read this post. It's too big and boring. Brevity is the sister of talent, remember that.

Leave a comment


Type the characters you see in the picture above.

About

Patrick van Diest Patrick G. van Diest a.k.a "patvandiest" thinks he can fulfill his "world domination scheme" by writing in this weblog in his spare time. We'll see about that in the upcoming future. Now, just expect writings on random geek things that may interest you. More

Subscribe to This Blog

About this Entry

This page contains a single entry by Patrick G van Diest published on November 26, 2007 7:25 PM.

What a Week was the previous entry in this blog.

Kembali Lagi is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Patvandiest on Twitter

  • @rifie it's weird, I've been playing around with fb all day, but the layouts still look the same as ever? why is that? - #
  • They build a new office building right next to my office. So all I can hear all day for about six months is drilling and pounding noise. bah - #
  • This is way too brilliant! Andy Vaderhol http://ping.fm/1kmAX - #
  • is happy! at the office I found the perfect mix of Milo and Frisian Flag milk to make a hot choco just like what I drink back home at night - #
  • Just got back home after watching Rufio @ senayan. They played pretty good, but the sound quality is poor. It's alright, Rufio still rules! - #