Pendidikan yang Memerdekakan
Hari ini negara Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaannya yang ke-63. Kali ini saya berusaha menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Ibu yang diajarkan oleh orang tua saya dari sewaktu saya kecil. Kali ini saya menulis untuk bangsa Indonesia.
Jika saya bilang bahwa tema dari post ini adalah "Apakah kita sudah merdeka?" mungkin sangat klise sekali dan sudah cukup membosankan untuk disimak. Namun, saya tidak akan pernah bosan mempertanyakan hal ini kepada diri saya sendiri. Kita sudah merdeka dari penjajahan selama 63 tahun berturut-turut, tapi pada kenyataannya dalam sejumlah ruang, kita belum merdeka, atau paling tidak sebagian besar dari kita belum merdeka. Kemiskinan, akses kesehatan, akses pendidikan, kesetaraan, dan sejumlah permasalahan lain membuat kita menjadi bertanya pada diri sendiri, "merdeka itu apa?"
Beberapa hari yang lalu saya akhirnya berhasil menyelesaikan karya sastra Pramoedya Ananta Toer yang terkenal, "Bumi Manusia" setelah hampir 2 tahun. Saya rasa keterlambatan saya menyelesaikan buku tersebut memiliki maksud tersendiri. Menjelang perayaan hari kemerdekaan, tepat sekali saya membaca sebuah buku yang mengedepankan nilai kebangkitan nasionalisme bangsa.
Dari beberapa nilai yang saya tangkap dari buku tersebut, ada satu hal yang paling menggugah hati saya. Rasa nasionalisme lewat pendidikan. Tokoh Minke beruntung mendapatkan pendidikan yang layak pada zamannya. Lewat pendidikan tersebut, derajatnya sebagai seorang manusia terangkat lebih tinggi. Lewat pendidikan, ia dapat menyadari betapa bangsanya mengalami penindasan oleh pihak asing yang sangat semena-mena.
Pendidikan dan Pengetahuan, hal inilah yang menjadi titik pembahasan saya sekarang. Kedua hal ini dapat mengangkat derajat dan martabat kita, dan memerdekakan bangsa kita dari keadaan yang stagnan sekarang ini. Sadarilah, bangsa kita stagnan, kemajuan hanya berjalan sedikit demi sedikit. Dengan pendidikan dan pengetahuan yang memadai, kita bisa maju lebih cepat dan tidak tertinggal dengan bangsa lain.
Sayangnya akses pendidikan di Indonesia masih terbatas. Pendidikan masih dapat dibilang mahal dan hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki dana mencukupi saja. Korelasi antara kualitas dengan biaya dalam dunia pendidikan berbanding lurus. Hal ini diperparah dengan birokrasi yang rapuh di dunia pendidikan.
Lantas, bagaimana kita merubahnya? Pendidikan dasar 9 tahun yang digembar-gemborkan pemerintah menurut pandangan saya belum cukup efektif. Tatanan sistem pendidikan di Indonesia harus berubah, lebih ke arah pelayanan, tidak lagi berorientasi bisnis. Perbesar subsidi pendidikan sehingga rakyat bisa menikmati pendidikan dasar 9 tahun yang gratis (benar-benar gratis). Perbaiki tingkat kesejahteraan dan kualitas guru. Hapus birokrasi yang berbelit-belit dalam sistem pendidikan. Sesuaikan kurikulum pendidikan dengan tingkat adaptasi dan karakter rakyat.
Ah, berat sekali sih postingan saya kali ini? Ya paling tidak saya bisa menyampaikan sesuatu, memberikan sesuatu kepada bangsa ini di hari kemerdekaan kita. Saya tidak mau kalah dengan Markis Kido dan Hendra Setiawan yang memberikan kontribusi Emas di Olimpiade Beijing. Saya juga ingin berkontribusi walaupun hanya dengan sebuah postingan, mudah-mudahan dapat berguna bagi mereka yang membacanya.
Jakarta, 17 Agustus 2008
Atas nama Patrick Gerard van Diest
beserta rakyat yang prihatin terhadap pendidikan di Indonesia.
Merdeka!
0 TrackBacks
Listed below are links to blogs that reference this entry: Pendidikan yang Memerdekakan.
TrackBack URL for this entry: http://www.patvandiest.com/cgi-bin/mt/mt-tb.cgi/64
Patrick G. van Diest a.k.a "patvandiest" thinks he can fulfill his
"world domination scheme" by writing in this weblog in his spare time.
We'll see about that in the upcoming future. Now, just expect writings
on random geek things that may interest you.
Leave a comment